Official Website SMA Negeri Pilangkenceng Kabupaten Madiun

20 Des 2021

KARYA ANTOLOGI GURU SMAN PILANGKENCENG - Luka yang sukar mengering

Oleh: Sofyan Ariefullah, S.Pd.,Gr.

“Soe hana i jak sikula ?” (Siapa yang tidak berangakat sekolah ?), tanyaku kepada para siswa kelas IV di pagi itu.

“Uroenyoe Syifa hana i jak pak” (Hari ini Syifa tidak berangkat pak), jawab siswa kelas IV serempak sembari mereka mengeluarkan buku pelajaran dari dalam tas.

“Pakon ?” (Kenapa ?), tanyaku sekali lagi.

...

“U peugah Mamak jih Syifa saket” (Dibilang Ibunya Syifa sakit), Jawab Fadilla salah seorang siswi kelas IV yang tempat tinggalnya dekat dengan Syifa.

Percakapan di pagi hari itu mengawali kegiatan belajar mengajarku bersama para siswaku di SDN Blang Pon kecamatan Lembah Seulawah Kabupaten Aceh Besar. Ya, aku adalah seorang pengajar yang tergabung dalam program Sarjana Mengajar di daerah Terdepan Terluar dan tertinggal (SM-3T). Program ini diprakarsai oleh kemenristek dikti.

Sudah lebih dari seminggu Syifa salah seorang muridku di kelas IV tidak masuk sekolah. Entah apa yang terjadi akupun sebagai guru kelasnya tidak tahu, padahal sehari sebelum tidak masuk sekolah ia memintaku untuk mengajarinya menggambar tokoh kartun jepang kesukaanya. Syifa memang dikenal teman-temannya sebagai anak yang pandai menggambar di kelas IV. Tergelitik oleh rasa penasaran yang besar akhirnya aku berencana untuk pergi menjenguknya sepulang sekolah nanti.

Waktu menunjukan pukul setengah dua lebih lima menit ketika langkah kaki membawaku ke rumah Syifa. Jalan yang menanjak dusun Blang Pon serta terik sekali matahari siang ini membuat butir peluh serasa tak mau berhenti keluar dari pori-pori kulit dahiku, akan tetapi rasa penasaranku yang terlampau besar telah mengalahkan serangan panas terik matahari di jalan dusun Blang Pon siang itu.

Lima belas menit kemudian langkahku terhenti di depan sebuah bangunan rumah sederhana bertipe 21 yang sangat sederhana dengan pelataran depan rumah yang sedikit lebar sehingga mampu memapung beberapa puluh karung sak bijih coklat yang telah dikeringkan.

Kedatanganku disambut dengan sesosok suara yang lantang menyapa. “Hai, pak guru ada perlu apa ?”. Sosok kurus kering berkulit hitam yang memakai baju kedodoran tersenyum manis kepadaku. Kumis hitam lebat di mulut yang sedang tersenyum menambah kesan wibawa sekaligus ramah darinya. Laki-laki yang kira-kira memiliki usia sekitar setengah abad lebih itu adalah pak Abdurrahman, Kepala Dusun Blang Pon sekaligus ayah dari muridku Syifa.

“Assalamualaikum pak Rahman, Syifa ada ?”, jawabku sambil tersenyum.

“Waalaikumsalam, mari masuk dulu kerumah pak guru ”, jawab pak Abdurrahman dengan tangan kanannya menunjuk ke dalam rumah.

Tak lama kemudian kami berdua duduk bersila beralaskan tikar jerami di ruang tamu rumah pak Rahman yang tampak luas karena tidak ada kursi ataupun meja di dalamnya. “Jadi ada keperluan apa pak mencari anak saya Syifa ?”, tanya ayah Syifa kepadaku.

“Begini pak, saya Cuma ingin tahu kabar Syifa … ada apakah gerangan sudah seminggulebih tidak masuk sekolah tanpa ada keterangan”, jawabku sambil tersenyum.

Suasana menjadi hening seketika, Pak Rahman tampak terdiam dengan tatapan kosong. Akupun tak kuasa untuk berucap lagi karena timbul rasa perkewuh atau tak enak hati untuk memecah kebisuan si kepala Dusun.

“Saya ambilkan minum dulu pak guru … mohon tunggu sebentar ya”, kata pak Rahman memecah kebisuan kami berdua. Dengan sedikit tergopoh-gopoh pak Rahman berlalu dari hadapanku masuk kedalam rumah.

“Ba .. baik pak”, jaawabku sedikit terbata-bata.

Tak lama kemudian Pak Rahman keluar dan meletakkan dua gelas teh hangat di antara kami berdua.

“Maklum pak orang rumah sedang ke Banda Aceh untuk menemani Syifa berobat, jadi saya sendiri yang membuatkan minum”, kata pak Rahman memulai percakapan lagi.

“Oh … iya pak”, jawabku sambil menarik senyum simpul di wajah.

“Syifa anak kami kemarin tersandung batu sehingga kakinya menjadi bengkak sehingga jalannya pincang ”, kata pak Rahman.

“Anak kami ini memang boleh dikatakan spesial, dia tidak bisa capek ataupun terkena benturan sedikit … kalau sampai kecapekan badannya bisa memar-memar biru … kalau tergores sedikit saja lama sekali sembuhnya, darahnya mengalir terus tidak bisa berhenti”, sambung pak Rahman yang kini raut mukanya berubah menjadi serius.

Diam dan tak bisa berkata-kata, itulah keadaanku waktu itu. Hanya dapat memasang wajah yang serius sambil mendengarkan dengan seksama penjelasan dari pak Rahman tentang penyakit yang diderita oleh anaknya kepadaku.

“Itulah kenapa kami memutuskan membawa dia ke RS di Banda Aceh … karena di Puskesmas ataupun polindes tidak ada obatnya pak guru”, kata pak Rahman lagi.

“Oh .. jadi begitu pak, saya baru tahu keadaan Syifa pak .. saya turut prihatin mendengarnya pak”, jawabku.

“Kata dokter dia harus dirawat kurang lebih 2 minggu lagi pak guru .. mungkin nanti anak kami tidak dapat mengikuti ujian kenaikan kelas yang diadakan sebentar lagi .. mengingat keadaan tubuhnya yang kurang sehat”, kata pak Rahman.

Perbincanganku dengan pak Rahman terus berlanjut sampai beberapa puluh menit kemudian.

“Baiklah pak Rahman, saya mau mohon diri dulu .. ada keperluan lagi yang harus diselesaikan di sekolah”, ucapku untuk mengakhiri kunjunganku hari itu.

“Iya pak guru, saya juga berterimakasih kepada bapak karena sudah perhatian kepada anak kami”, jawab pak Rahman.

“Ini ada titipan dari dokter yang merawat Syifa kemarin .. kata beliau surat ini harus diberikan kepada guru Syifa di sekolah supaya dibaca”. Kata pak Rahman sembari mengeluarkan secarik amplop yang akhirnya diberikan kepadaku.

“Iya pak … nanti saya baca surat ini sesampai dirumah”, kataku sambil melirik amplop tersebut dengan penasaran. Akhirnya diiringi ucapan salam serta lambaian tangan kanan kutinggalkan rumah itu dengan langkah kaki tanpa gairah. Perasaan tak sabar untuk segera membuka amplop pemberian pak Rahman menyelimuti perjalanan pulangku.

Selang beberapa menit kemudian aku sampai di depan pintu rumahku, tanpa masuk kedalam rumah langsung kubuka amplop pemberian pak Rahman. Tampaklah sebuah buku berwarna merah marun bergambar anak-anak, di sampul bagian atas tercetak dengan huruf tebal “Hemofilia”.

Berdasarkan buku dan surat dari dokter itu aku mengetahui bahwa siswaku Syifa mengidap penyakit hemofilia. hemofilia adalah penyakit yang mengakibatkan penderitanya sukar mengeringkan lukanya butuh waktu ama bagi seorang penderita hemofilia untuk dapat sembuh dari luka fisik yang ia dapatkan. Penyakit ini adalah penyakit keturunan sehingga bisa dikatakan penderita hemofilia telah mengidap penyakit tersebut sejak ia baru lahir. Untungnya siswaku Syifa adalah anak yang tegar dan periang sehingga untuk ukuran anak seusianya ia sudah dapat menanggung beban seberat itu. Aku pribadi selalu berdoa untuk Syifa agar tetap diberi ketabahan oleh Allah SWT menghadapi ujian yang sudah ia dapatkan sejak lahir.

~ SEKIAN ~

KEGIATAN PURNAWIDYA KELAS XII SMAN PILANGKENCENG TAHUN 2022

Pada hari Rabu 11 Mei 2022, SMAN Pilangkenceng menyelenggarakan acara purnawidya untuk kelas XII di gedung PGRI Kabupaten Madiun. Acara ini ...

Popular Posts